Langsung ke konten utama

PODCAST BUKAN PENGGANTI RADIO

Masyarakat kini tidak asing dengan teknologi. Meskipun banyak yang belum melek teknologi. Dari anak-anak hingga orang tua sekarang menggunakan gawai. Gawai sekarang sangat canggih, fitur dalam gawai tidak hanya sebatas sms dan telpon. Permainannya juga tidak hanya sebatas ular mencari makan dan tampilan layar tidak lagi hitam putih. Bahkan, gawai zaman sekarang tidak lagi menggunakan keypad tapi menggunakan layar sentuh.

Kemajuan teknologi tidak hanya berlaku untuk gawai saja. Alat komunikasi lainnya juga semakin maju. Televisi dan radio juga semakin berkembang pesat. Seiring dengan majunya teknologi kecepatan internet juga semakin cepat. Segala informasi dapat diperoleh secara cepat. Bahkan tayangan televise mengambil konten dari internet. Tak hanya itu radio sekarang juga dapat diakses melalui internet.

Ada yang tidak kalah menarik nih dari radio.  Kalau radio tidak bisa memilih mau mendengarkan tentang apa. Radio juga ada segmen-segmen dan diselingi lagu-lagu. Podacast beda lagi. Podcast memberikan akses pendengarnya untuk memilih mau mendengarkan tentang apa. Banyak sekali tema yang bisa didengar sesuai mood dan keinginan, tentunya tanpa diselingi lagu dan iklan.

Tapi podcast bukan pengganti radio. Radio masih sering didengar oleh beberapa pendengar. Apalagi untuk kota-kota padat penduduk yang sering sekali macet. Podcast dilakukan secara rekaman sedangkan radio secara siaran langsung. Apabila mood lagi berantakan tidak ingin mendengarkan hal yang random bisa mendengarkan podcast. Tapi kalau ingin mendengarkan sesuatu yang baru dan tiba-tiba bisa mendengarkan radio.

Banyak sekali pilihan platform untuk mendengarkan podcast. Mulai dari podcast yang menampilkan visual hingga yang hanya suaranya saja. Bahkan siapapun bisa membuat podcastnya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

self healing?

Dunia sedang diributkan oleh virus corona. Entah ini sebuah kabar baik atau kabar buruk bagi semesta. Manusia gempar mencoba menangani virus ini, meminta semua menghentikan aktivitas di luar rumah. "Semua berdiam diri di rumah" begitu katanya. Semesta sedikit kecewa dengan orang bebal, tapi mau bagaimana lagi tidak dapat bertahan hidup di dalam rumah bagi rakyat kecil. Manusia tidak pernah tahu bumi sedang ingin berhenti barang sejenak. Berhenti menghirup udara kotor dan sesak, berhenti merasakan sakitnnya digali terus menerus. Bumi juga perlu menumbuhkan rambutnya kembali. Tidak hanya manusia saja yang butuh self healing, bumi pun begitu. Selagi semua berhenti sejenak, semesta akan menyuguhkan sesuatu yang baik. Itu pasti!

Sepatah Kata Semesta

Kau pernah merasa sangat tinggi dan besar. Tanpa sadar bahwa ada yang lebih darimu. Sedikit sekali kau merasa sangat kecil. Wajar begitulah manusia. Semesta tak akan menyalahkanmu, tak akan menghujatmu sekalipun kau menyakitinya. Ini bukan tentang siapa-siapa, melainkan tentang diri sendiri. Semua kebaikan bukan tentang diri sendiri, melainkan tentang yang lain. Bukan baik untuk diri sendiri, tapi baik untuk yang lain. Begitulah cara semesta berpikir. Di bawah atap berhujan, di tengah dinginnya malam, selamat malam😊

Tidak Ada yang Salah dengan Mundur Seelangkah

Beranjak dewasa menjadi suatu ujian yang berat bagi beberapa remaja. Segelintir orang mulai mempertanyakan jati diri mereka. Sebagiannya lagi mulai merasa gagal. Kata orang hidup bukanlah sebuah kompetisi sehingga kau harus cepat-cepat mencapai kesusksesan. Tidak ada ukuran dari sukses, sukses dan bahagia masing-masing orang juga berbeda. Jangankan begitu, kita harus ingat bahwa di atas langit masih ada langit. maka janganlah bersombong hati. Hari ini, orang tersayangku meyakinkanku bahwa tidak ada salahnya untuk mundur satu langkah menyiapkan strategi yang mungkin akan lebih dasyat hasilnya. Setelah mendengar apa tetap tidak ragu? tidak, aku tetap ragu. seperti menanyakan bagaimana jika aku tertinggal jauh dengan teman-temanku? bagaimana jika aku harus beradaptasi kembali dengan orang-orang baru? bagaimana jika ini bukan yang kumau? yah semua pertanyaan itu ada di benakku. Tapi, ia meyakinkanku kembali tidak masalah dan sepertinya tidak ada jalan keluar selalin ini. Seperti pagi yang ...